Tampilkan postingan dengan label Kesulitan belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesulitan belajar. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Agustus 2014

Kenali Kesulitan Belajar Anak Sejak Dini

Kenali Kesulitan Belajar Anak Sejak Dini

Ilustrasi

Anak yang mengalami kesulitan belajar adalah anak yang memiliki ganguan satu atau  lebih dari proses dasar yang mencakup pemahaman penggunaan bahasa lisan atau tulisan, gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk kemampuan yang tidak sempurna dalam mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja atau menghitung.

Batasan tersebut meliputi kondisi-kondisi seperti gangguan perceptual, luka pada otak, diseleksia dan afasia perkembangan. Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, kita dihadapkan dengan sejumlah karakterisktik siswa yang beraneka ragam. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajarnya dengan lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain tidak sedikit pula siswa yang justru dalam belajarnya mengalami berbagai kesulitan.

Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya.

Kesulitan belajar siswa mencakup pengertian yang luas, diantaranya : (a) learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learning diasbilities. Di bawah ini akan dijelaskan dari masing-masing pengertian tersebut.

1.    Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.

2.    Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.

3.    Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.

4.    Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.

5.    Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.

Dari sedikit penjelasan diatas, dirasakan bahwa orangtua perlu mengetahui bentuk kesulitan belajar yang dialami oleh putra/puteri mereka agar lebih mengerti bentuk kesulitan yang putera/puteri mereka hadapi. Banyak orangtua yang juga bertanya dan bingung tentang pendidikan dan prestasi belajar anak, baik di sekolah maupun dirumah.

Bahkan belajar menjadi 4 golongan masalah yang biasanya terjadi pada anak kita. Pada dasarnya seorang anak memiliki 4 masalah besar yang tampak jelas di mata orang tuanya dalam kehidupannya yaitu:

1.    Out of Law / Tidak taat aturan (seperti misalnya, susah belajar, susah menjalankan perintah, dsb)

2.    Bad Habit / Kebiasaan jelek (misalnya, suka jajan, suka merengek, suka ngambek, dsb.)

3.    Maladjustment / Penyimpangan perilaku

4.    Pause Playing Delay / Masa bermain yang tertunda

Perlu diketahui juga, awalnya banyak pendapat yang menyatakan keberhasilan anak dan pendidikan anak sangat tergantung pada IQ (intelligence quotient). Namun memasuki dekade 90-an pendapat itu mulai berubah. Daniel Goleman mengungkapkan bahwa keberhasilan anak sangat tergantung pada kecerdasan emosional (emotional intelligence) yang dimiliki. Jadi IQ bukanlah satu satunya yang mempengaruhi keberhasilan anak, masih ada emotional intelligence yang juga perlu diperhatikan.

Ini adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasaan serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasaan, dan mengatur suasana hati.

Dari berbagai penjelasan diatas, tentu banyak sekali tugas kita sebagai orangtua dalam mendidik anak kita baik mulai dari masa kecil mereka maupun hingga besar nantinya. Semua adalah tanggung jawab yang mulia, sebagaimana anak adalah karunia dan titipan tuhan kepada kita. Maka dari itu kita lah yang harus merawat dan memperhatikan perkembangan mereka, dan akhirnya kita pula yang akan tersenyum bahagia melihat perkembangan mereka. Marilah kita memulai belajar mengenali dan mendidik anak mulai dari sekarang.

wow.psikologizone.com



Jumat, 29 Agustus 2014

Mengenali Anak Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar dan Upaya Mengatasinya

A.    Gejala yang Ditunjukkan Anak Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar
Gejala-gejala yang menunjukkan adanya kesulitan belajar dapat diamati dalam berbagai bentuk. Ia dapat muncul dalam bentuk perilaku yang menyimpang atau menurunnya hasil belajar. Perilaku yang menyimpang juga muncul dalam berbagai bentuk, seperti: suka mengganggu teman, sukar memusatkan perhatian, sering termenung, hiperaktif, sering membolos.
Menurunnya hasil belajar merupakan gejala kesulitan belajar yang paling jelas. Menurunnya hasil belajar ini dapat dilihat dari rendahnya hasil latihan, baik latihan di kelas maupun pekerjaan rumah dan menurunnya hasil ulangan harian/post test yang ditandai dengan diperolehnya nilai-nilai yang rendah. Nilai-nilai rendah yang dicapai siswa inilah yang dapat dijadikan indikator yang kuat tentang adanya kesulitan belajar yang dihadapi siswa.[1]
Selain itu, beberapa gejala sebagai pertanda adanya kesulitan belajar, misalnya:
1.      Menunjukkan prestasi yang rendah/di bawah rata-rata yang dicapai oleh kelompok kelas.
2.      Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan. Ia berusaha dengan keras tetapi nilainya selalu rendah.
3.      Lambat dalam melakukan tugas-tugas belajar. Ia selalu tertinggal dengan kawan-kawannya dalam segala hal.
4.      Menunjukkan sikap yang kurang wajar seperti acuh tak acuh, berpura-pura, dusta, dan lain-lain.
5.      Menunjukkan tingkah laku yang berlainan.[2]
Selain hal di atas, gejala kesulitan belajar juga terlihat pada anak didik yang tergolong memiliki IQ tinggi, yang secara potensial mereka seharusnya meraih prestasi belajar yang tinggi, tetapi kenyataannya mereka mendapatkan prestasi belajar yang rendah. Demikian pula anak didik yang selalu menunjukkan prestasi belajar yang tinggi untuk sebagian besar mata pelajaran, tetapi di lain waktu prestasi belajarnya menurun drastis.[3]
B.     Mengenali Anak Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar
Anak didik yang mengalami kesulitan belajar dapat diamati dari sikap serta tingkah lakunya, jika ia menunjukkan gejala-gejala yang nampak seperti tersebut di atas, maka kemungkinan anak didik tersebut mengalami kesulitan belajar. Dalam hal ini seorang pendidiklah yang diharapkan mampu mengenali gejala-gejala yang ditunjukkan oleh anak didiknya.
Selain dengan mengenali gejala-gejala di atas, kesulitan belajar pada anak didik juga dapat dikenali dengan melakukan penyelidikan dengan cara:[4]
a.     Observasi
Observasi adalah suatu cara memperoleh data dengan langsung mengamati terhadap objek. Sambil melakukan observasi, dilakukan pencatatan terhadap gejala-gejala yang tampak pada diri subjek, kemudian diseleksi untuk dipilih yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
b.    Interview
Interview adalah suatu cara mendapatkan data dengan wawancara langsung terhadap orang yang diselidiki atau terhadap orang lain –guru, orang tua, atau teman intim anak- yang dapat memberikan informasi tentang orang yang diselidiki. Interview sebagai pendukung yang akurat dari kegiatan observasi.
c.     Dokumentasi
Dokumentasi adalah suatu cara untuk mengetahui sesuatu dengan melihat catatan-catatan, arsip-arsip, dokumen-dokumen, yang berhubungan dengan orang yang diselidiki. Teknik ini dimaksudkan agar kita dapat menyelidiki faktor penyebab anak didik mengalami kesulitan belajar. Dokumen yang perlu dicari berhubungan dengan anak didik ialah:
·         Riwayat hidup anak didik
·         Prestasi anak didik
·         Kumpulan ulangan
·         Catatan kesehatan anak didik
·         Buku rapor anak didik
·         Buku catatan untuk semua mata pelajaran, serta
·         Buku pribadi anak didik (cumulative record), yang biasanya ada pada petugas bimbingan dan penyuluhan di sekolah.
d.    Tes Diagnostik
Tes diagnostik dimaksudkan untuk mengetahui kesulitan belajar yang dialami anak didik berdasarkan hasil tes formatif sebelumnya. Tes diagnostik memrlukan sejumlah soal untuk satu mata pelajaran yang diperkirakan merupakan kesulitan bagi anak didik. Sejauh mana tingkat penguasaan anak didik terhadap bahan pelajaran yang akan diberikan guru, dapat diketahui dengan tes diagnostik.

C.     Upaya Mengatasi Kesulitan Belajar Anak Didik
Secara garis besar, langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam rangka usaha mengatasi kesulitan belajar anak didik, dapat dilakukan melalui enam tahap, yaitu:
1.      Pengumpulan Data
Untuk menemukan sumber penyebab kesulitan belajar diperlukan banyak informasi. Untuk memperoleh informasi perlu diadakan pengamatan langsung terhadap objek yang bermasalah. Baik teknik observasi dan interview maupun dokumentasi, dapat dipakai untuk mengumpulkan data, ketiganya saling melengkapi dalam rangka keakuratan data. Usaha lain yang dapat dilakukan dalam usaha pengumpulan data bisa melalui kegiatan berikut:
a.       Kunjungan rumah.
b.      Case Study.
c.       Case history.
d.      Daftar Pribadi.
e.       Meneliti pekerjaan anak.
f.       Meneliti tugas kelompok.
g.      Melaksanakan tes, baik tes IQ maupun tes prestasi.
2.      Pengolahan Data
Langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam rangka pengolahan data adalah sebagai berikut:
a.         Identifikasi kasus
b.         Membandingkan antarkasus
c.         Membandingkan dengan hasil tes
d.        Menarik kesimpulan
3.      Diagnosis
Diagnosis adalah keputusan (penentuan) mengenai hasil dari pengolahan data. Diagnosis dapat berupa hal-hal berikut:
a.         Keputusan mengenai jenis kesulitan belajar anak didik yaitu berat dan ringannya tingkat kesulitan yang dirasakan anak didik.
b.         Keputusan mengenai faktor-faktor yang ikut menjadi sumber penyebab kesulitan belajar anak didik.
c.         Keputusan mengenai faktor utama yang menjadi sumber penyebab kesulitan belajar anak didik.
Untuk mendapatkan hasil diagnosis yang meyakinkan, sebaiknya minta bantuan tenaga ahli dalam bidang keahian mereka masing-masing, yaitu:
a.         Dokter, untuk mengetahui kesehatan anak.
b.         Psikolog, untuk mengetahui tingkat IQ anak.
c.         Psikiater, untuk mengetahui kejiwaan anak.
d.        Sosiolog, untuk mengetahui kelainan sosial yang mungkin dialami oleh anak.
e.         Guru kelas, untuk mengetahui perkembangan belajar anak selama di sekolah.
f.          Orang tua anak, untuk mengetahui kebiasaan anak di rumah.
4.      Prognosis
Keputusan yang diambil berdasarkan hasil diagnosis menjadi dasar kegiatan prognosis. Dalam prognosis dilakukan kegiatan penyusunan program dan penetapan ramalan mengenai bantuan yang harus diberikan kepada anak untuk membantunya keluar dari kesulitan belajar.
5.      Treatment
Treatment adalah perlakuan. Perlakuan yang dimaksud disini adalah pemberian bantuan kepada anak didik yang mengalami kesulitan belajar sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis. Bentuk treatment yang mungkn dapat diberikan ialah:
a.       Melalui bimbingan belajar individual.
b.      Melalui bimbingan belajar kelompok.
c.       Melalui remedial teaching untuk mata pelajaran tertentu.
d.      Melalui bimbingan orang tua di rumah.
e.       Pemberian bimbingan pribadi untuk mengatasi masalah-masalah psikologis.
f.       Pemberian bimbingan mengenai cara belajar yang baik secara umum.
g.      Pemberian bimbingan mengenai cara belajar yang baik sesuai dengan karakteristik setiap mata pelajaran.
6.      Evaluasi
Evaluasi disini dimaksudkan untuk mengetahui apakah treatment yang telah diberikan telah berhasil dengan baik. Artinya ada kemajuan, yaitu anak dapat dibantu keluar dari lingkaran masalah kesulitan belajar, atau gagal sama sekali. Bila jawaban anak terhadap soal yang diberikan pada tahap treatment sebagian besar banyak yang salah, itu sebagai pertanda bahwa treatment gagal. Karenanya, perlu pengecekan kembali dengan cara mencari faktor-faktor penyebab dari kegagalan itu.
Dalam rangka pengecekan kembali atas kegagala treatment, secara teoritis langkah-langkah yang perlu ditempuh adalah sebagai berikut:
a.       Re-Checking data (baik yang berhubungan dengan masalah pengumpulan maupun pengolahan data).
b.      Re-diagnosis.
c.       Re-prognosis.
d.      Re-treatment.
e.       Re-evaluasi. [5]
Selain melalui tahap-tahap di atas, cara mengatasi kesulitan belajar yang dihadapi siswa juga harus dilakukan dengan mengadakan diagnosis dan remedies yaitu melalui proses pemeriksaan terhadap gejala kesulitan belajar yang terjadi dan diakhiri dengan mengadakan remedies atau perbaikan sehingga masalah kesulitan belajar siswa benar dapat diatasi. Pelaksanaan diagnosis kesulitan belajar tersebut harus berlangsung secara sistematis dan terarah melalui langkah-langkah berikut:
1.      Mengidentifikasi Adanya Kesulitan Belajar
Pada langkah pertama ini guru harus mengidentifikasi/menetapkan adanya kesulitan belajar pada diri siswa. Menetapkan untuk memastikan adanya kesulitan belajar harus didasarkan pada pengetahuan dan pengalaman. Sebagai pedoman untuk menetapkan adanya kesulitan belajar guru dapat menggunakan hasil-hasil post test dan catatan perilaku siswa yang menyimpang selama 2 atau 3 kali pertemuan.
2.      Menelaah/Menetapkan Status Siswa
Setelah guru mengidentifikasi dan memperoleh kepastian tentang siapa-siapa saja yang mengalami kesulitan dalam belajar, maka pada langkah kedua ini guru menelaah atau memriksa setiap siswa yang dimaksudkan pada langkah ini ialah untuk menetapkan jenis atau bentuk kesulitan belajar yang dialami oleh setiap siswa. Untuk memastikan jenis atau bentuk kesulitan masing-masing dapat dilakukan dengan dua cara: Pertama, dengan membandingkan hasil pencapaian/penguasaan TIK (Tujuan Instruksional Khusus) hasil belajar siswa dengan TIK yang ditargetkan untuk dicapai oleh siswa. Kedua, dilakukan dengan menetapkan bentuk kesulitan mereka dalam proses belajarnya.
3.      Memperkirakan Sebab Terjadinya Kesulitan
Upaya yang dapat dilakukan guru untuk menetapkan sebab kesulitan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan alat diagnostik kesulitan belajar. Alat tersebut dapat berupa test diagnostik dan test-test untuk mengukur kemampuan inteligensi, kemampuan mengingat, kemampuan alat indera dan sebagainya yang erat kaitannya dengan proses belajar.
4.      Mengadakan Perbaikan
Strategi pelaksanaan yang ditempuh guru dalam mengadakan perbaikan ini harus dilakukan dengan melalui pendekatan psikologis didaktis, yaitu: Pertama, siswa yang akan diperbaiki sudah menyadari faktor kesulitan/kekurangan mereka; kedua, mereka yakin kesulitan/kekurangan mereka dapat diatasi; ketiga, siswa dibimbing untuk mengadakan perbaikan sesuai dengan sebab dan kondisi kesulitan yang mereka alami.[6]
Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pada intinya untuk mengatasi masalah belajar pada anak terlebih dahulu kita mengamati kesulitan apa yang dihadapinya, kemudian memberikan solusi untuk masalahnya dengan memberikan latihan-latihan dan sejenisnya untuk mengukur kemampuannya.


[1] Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), h.. 89.
[2] Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta,1991), h. 89.
[3] Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2011), h. 247.
[4] Ibid., h. 247-249.
[5] Ibid., h. 250-255.
[6] Alisuf Sabri, Op. Cit., h. 90-93.
Diposkan oleh Nida Mauizdati di 18.29