Sepasang suami istri menjalani hidup sehat, antara lain dengan melakukan diet ketat, nyaris vegetarian. Alkisah, mereka mencapai umur panjang dan meninggal bersama-sama dalam usia lanjut. Di Surga, mereka di undang ke perjamuan yang mewah. Aneka hidangan, yang dulu tak berani mereka sentuh saat masih di bumi, tersaji secara melimpah. Ternyata di Sorga Mereka tidak perlu berpantang. Mendengar penjelasan itu, sang suami marah dengan istrinya, “Kalau kamu tidak memaksa aku makan sereal hambar itu, mungkin dua puluh tahun lalu aku sudah sampai disini, tahu enggak?
Pernah membayangkan surga seperti cerita di atas? Kita membayangkan surga sebagai tempat untuk “melampiaskan” keinginan yang kita kekang selama di Bumi. Namun, jika kita berfokus pada keinginan diri, itu berarti kita sedang membayangkan Surga yang lain dari yang diulurkan Kristus
Kerajaan Surga disebut juga Kerajaan Allah, bukan Kerajaan “aku”. Surga berpusat kepada Allah sebagai Raja, sang pemegang kedaulatan tertinggi (Why. 4:8-11). Surga bukan tempat pelampiasan diri, melainkan tempat kehendak Allah digenapi. Di Surga kita dapat melakukan sepuasnya bukan apa yang kita inggini, melainkan apa yang semestinya kita lakukan sebagai anak Allah. Dan, justru dengan mematuhi kehendak Allah itulah kita dipuaskan.
Hebatnya, hidup dengan cara surgawi bisa kta mulai saat ini. Yakni dengan belajar hidup tidak egois atau sekehendak hati. Sebaliknya, kita belajar untuk selalu mempertimbangkan masak-masak; apakah sikap, ucapan, dan tindakan kita selaras dengan kehendak Allah
Satu hal yang perlu kita inggat “ Kerajaan Surga adalah Kerajaan Allah, bukan Kerajaan Aku”.
Sepasang suami istri menjalani hidup sehat, antara lain dengan melakukan diet ketat, nyaris vegetarian. Alkisah, mereka mencapai umur panjang dan meninggal bersama-sama dalam usia lanjut. Di Surga, mereka di undang ke perjamuan yang mewah. Aneka hidangan, yang dulu tak berani mereka sentuh saat masih di bumi, tersaji secara melimpah. Ternyata di Sorga Mereka tidak perlu berpantang . mendengar penjelasan itu, sang suami marah dengan istrinya, “Kalau kamu tidak memaksa aku makan sereal hambar itu, mungkin dua puluh tahun lalu aku sudah samapai disini, tahu enggak?
Pernah membayangkan surga seperti cerita di atas? Kita membayangkan surga sebagai tempat untuk “melampiaskan” keinginan yang kita kekang selama di Bumi. Namun, jika kita berfokus pada keinginan diri, itu berarti kita sedang membayangkan Surga yang lain dari yang diulurkan Kristus
Kerajaan Surga disebut juga Kerajaan Allah, bukan Kerajaan “aku”. Surga berpusat kepada Allah sebagai Raja, sang pemegang kedaulatan tertinggi (Why. 4:8-11). Surga bukan tempat pelampiasan diri, melainkan tempat kehendak Allah digenapi. Di Surga kita dapat melakukan sepuasnya bukan apa yang kita inggini, melainkan apa yang semestinya kita lakukan sebagai anak Allah. Dan, justru dengan mematuhi kehendak Allah itulah kita dipuaskan.
Hebatnya, hidup dengan cara surgawi bisa kta mulai saat ini. Yakni dengan belajar hidup tidak egois atau sekehendak hati. Sebaliknya, kita belajar untuk selalu mempertimbangkan masak-masak; apakah sikap, ucapan, dan tindakan kita selaras dengan kehendak Allah
Satu hal yang perlu kita inggat “ Kerajaan Surga adalah Kerajaan Allah, bukan Kerajaan Aku”.
Ayah merupakan model bagi anak-anaknya. Meniru perilaku baik ayah, itu yang dimaui. Namun, hati-hati si kecil bisa pula meng- copy perilaku sebaliknya.
Tak sedikit ayah menyadari apa yang mereka lakukan tidak ingin ditiru anak. Para ayah juga tidak yakin apa yang seharusnya mereka lakukan. Misalnya saja, sepanjang hari Minggu ayah hanya bermain games di komputer , bermalas-malasan dan tak peduli kran kamar mandi bocor.
Sikap ayah, direkam anak Ayah tahu ini tidak baik dan, tentu saja, ayah tak ingin anak-anaknya kelak juga berperilaku demikian. Tetapi, apa tidak boleh bermalas-malasan di hari Minggu
Apa pun jenis kelamin anak, ayah merupakan model. Sikap ayah terhadap rumah, keluarga dan orang lain, terekam dengan baik dalam memori anak.
Dibanding anak perempuan, anak laki-laki lebih senang meng- copy perilaku ayah. Ayah yang bermalas-malasan, memberi jejak pada anak laki-laki untuk juga bersikap demikian. Pada anak perempuan, akan muncul pemahaman negatif tentang laki-laki. Dia akan berkesimpulan, memang begitulah sifat laki-laki!
Mulailah jadi ayah oke Menjadi ayah merupakan proses panjang, yang diawali sejak masa kanak-kanak. Ayah yang santun, yang menghargai istri dan anak-anak, yang peduli urusan rumah, yang sadar perilakunya menjadi teladan bagi anak, tidak terbentuk begitu saja ketika ia sudah jadi ayah. Benih perilaku ini sudah ada dalam dirinya sejak kecil.
Tapi, bukan berarti, tak ada harapan bagi para ayah yang ingin menjadi ayah yang lebih baik. Ada cara yang bisa Anda jalankan. Syaratnya, Anda tulus melakukannya.
* Perlakukan ibunya anak-anak dengan baik.
Menjaga keutuhan perkawinan, mendengarkan pendapat istri dan menanggapi kebutuhannya merupakan manifestasi dari perlakuan baik terhadap ibunya anak-anak. Anak mengamati, dan kemudian membentuk perilaku dan pola pikir tentang menghargai pasangan.
* Peka kondisi rumah.
Perhatikan hal-hal kecil di rumah. Misalnya, jangan cuek bila lampu taman dalam beberapa hari ini kedip-kedip. Tak perlu menunggu sampai istri dan anak-anak mengingatkan, “Yah…, lampu taman perlu diganti, tuh. Udah dua hari kedip-kedip.” Eh… sudah diingatkan masih juga Anda cuek . Jelek sekali ayah yang demikian!
* Luangkan waktu bersama anak.
Cara ayah menggunakan waktu luangnya memberi pemahaman pada anak tentang hal penting dalam hidup ayah. Bila ayah menggunakan waktu luangnya bersama anak, si kecil paham ia penting dalam kehidupan ayah. Bila ayah asyik bermain sendiri, anak menafsirkan, ayah mementingkan dirinya sendiri.
* Bicara pada anak.
Biasanya ayah hanya mau bicara pada anak bila anak melakukan kesalahan. Mulailah ngobrol dengan anak sejak masih kecil. Dengarkan ide serta masalahnya.
* Jadilah guru bagi anak.
Ajarkan anak-anak hal baik dan buruk. Dengan demikian, mereka akan membuat keputusan yang baik untuk dirinya.
* Disiplinkan anak dengan cinta.
Anak butuh bimbingan dan teladan, bukan ‘cuma’ hukuman. Tunjukkan tentang dampaknya bila anak tidak disiplin, tetapi tidak dengan menghukumnya.
* Sediakan waktu untuk makan bersama .
Makan malam bersama, misalnya, dapat Anda jadikan kesempatan untuk mendengarkan hal-hal yang dilakukan anak sepanjang hari.
* Tunjukkan perasaan pada anak.
Anak-anak butuh rasa aman dengan cara mengetahui bahwa mereka dibutuhkan dan dicintai ayahnya. Mereka juga butuh dipeluk ayah. Tunjukkan perasaan Anda agar anak-anak yakin Anda mencintainya.
Kita dapat melihat contoh yang jelas tentang hal ini dalam 2 Taw.20. Di situ Alkitab memberitahu kita bahwa sejumlah besar kekuatan tentara berperang melawan Israel. Pasukan Israel sangat sedikit jumlahnya, sehingga mereka tidak tahu tindakan yang harus dilakukan. Jadi mereka berpuasa dan berdoa sampai mereka mendapat petunjuk dari Tuhan, “Jangalah kamu takut dan terkejut karena lascar yang besar ini, sebab bukan kamu yang berperang melainkan Tuhan”.
Tahukan kita, apa yang perlu mereka lakukan sebagai tanggapan terhadap petunjuk ini? Mereka membentuk kelompok paduan suara yang memuji Tuhan! Mereka mengangkat para penyanyi dan pemuji lalu mengutus rombongan ini untuk ditempatkan di muka pasukan tentara!. Dan ketika paduan suara mulai menyanyi, firman Tuhan menyatakan bahwa “dibuat Tuhanlah penghadangan terhadap….yang hendak menyerang Yehuda sehingga mereka terpukul kalah.”
Ketika semua telah berakhir, tiada seorang Israel pun gugur- dan tiada seorang pun musuh mereka yang dapat meluputkan diri. Lagi pula, ketika mereka mengambil jarahan, mereka menemukan sangat banyak ternak, barang, pakaian dan benda berharga lainnya sehingga diperlukan waktu tiga hari untuk mengangkutnya pulang.
Itukah kemenangan? Dan semuanya dimulai dengan pujian.
Apakah anda sedang mencari kemenangan sejenis ini pada hari ini? Jika demikian berdirilah tegak dan berserulah, “Kemuliaan bagi Tuhan! Bagaimanapun, kita ada dlam situasi serupa seperti yang dialami oleh umat Israel pada wakt itu. ada sepasukan musuh menyerang kita, TETAPI YESUS telah mengalahkannya. Dia memenangkan pertempuran itu bagi kita pada saat kebangkitanNya.
Yang kita lakukan hanyalah mempercayai-Nya dan mulai memuji. Perdengarkanlah puji-pujian hari ini. Ucapkanlah itu, nyanyikanlah itu dan umumkanlah itu di hadapan musuh kita. Begitu si musuh mendengar itu, dia akan tahu bahwa dia tidak berpeluang sama sekali.